Selasa, 23 Oktober 2012

Pegawai Mall atau Pedagang Pasar Tradisional?

Pasar Tradisional


Food Court di Mall

 


Pepatah mengatakan don’t judge a book by its cover. Betul, betul, betul, kita tidak bisa menilai baik-buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, senang-sedihnya orang dari penampilannya atau luarnya saja. Banyak hal yang terjadi yang menurut kita tidak mungkin menjadi mungkin dan itu ada setelah kita mencari tahu lebih dalam hal tersebut.
 
Lalu bagaimana pendapat anda tentang karyawan Mall dan pegawai (pedagang) pasar tradisional? Apa karena anda telah melihat tempat bekerja yang bagus dan nyaman, pakaiannya yang bagus dan mewah, membuat anda mengatakan bahwa orang yang bekerja di mall itu adalah orang yang kaya dan berkecukupan? Apakah dengan melihat keadaan pasar yang sangat crowded dan bisa dikatakan tempatnya kotor, lalu kita mengatakan bahwa penjual di pasar adalah orang-orang yang kurang mampu atau tidak berkecukupan? Kebanyakan orang mengatakan demikian. Hal ini disebabkan karena mereka hanya melihat dari cover atau kulitnya saja, tapi itulah realita yang terjadi sekarang.

Berikut hasil pengamatan dan pernyataan beberapa orang yang telah saya wawancarai;

Karyawan Mall

Dilihat dari kasat mata, karyawan Mall adalah pekerjaan yang sangat mewah dan diperkirakan memiliki gaji yang tinggi. Baik dari cara berpakaiannya, gaya atau style, dan wajahnya yang penuh make up dan penampilannya yang bersih

Hasil wawancara salah seorang perempuan yang pernah menjadi kasir di sebuah food court di salah satu makanan cepat saji. Dia dulu bekerja sebagai kasir ketika dia baru lulus sekolah dari bangku SMK. “Ga lama sih cuma 4 bulan tapi banyak banget pengalaman yang saya dapet”, ujar perempuan berambut panjang tersebut.

Sedangkan ketika ditanya alasan mengapa dia mau menjadi kasir di food court tersebut, dia menjawab karena ingin menambah pengalaman, membantu orangtua dan mencari relasi yang ada. Dilihat dari penampilan, dia cukup menarik dan cara berbicarannya juga sopan dan teratur. Dia juga mencerita pengalamannya dalam bekerja yang dituntut untuk berpenampilan menarik seperti menggunakan pakaian yang bagus, rapi, dan harus memakai make up yang menor. Ibarat kata dari ujung rambut sampai ujung kaki sangat dipehatikan sekali. Dalam bekerja banyak suka duka yang dia alami. Anehnya dia menyebutkan sukanya ketika pelanggan yang membeli sedikit. Dalam keadaan itu dia bisa bernafas lega, nyantai, dan bisa bersenda gurau dengan teman-temannya. Kemudian sukanya lagi, ketika dia dapat tips dari pelanggan terutama pembeli dari negara lain (turis asing) yang biasanya memberikan begitu saja uang kembaliannya, dan dia bisa berinteraksi dengan bebrapa orang yang mempunyai strata sosial yang berbeda-beda, serta membangun relasi dengan orang-orang baru. Dukanya, kalau lagi bekerja dia tidak boleh memegang handphone. Selama dia kerja tidak boleh melihat atau memainkan handphone sedikitpun. Jika itu terjadi, ada sanksi yang dikenakan. Seperti kena skors yang hukuman biasanya hanya diberi kesempatan untuk bekerja pada hari sabtu dan minggu saja. Tentunya itu sangat merugikan dia, karena sistem gaji di sana dibayar perhari dan dihitung setiap jamnya.  

Gaji perhari yang dia dapat adalah  37.000 rupiah. Foodcourt buka dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Jika lembur, dia dibayar hanya 10.000 rupiah per jam lemburnya. Jika dilihat dari kebutuhan hidup yang serba tinggi sekarang, gaji yang diterima dan lama dia bekerja itu tidak seimbang. Jika dikalkulasikan gaji dia perbulan hanya 1.110.000 rupiah belum termasuk lembur. Ya, itu kalau dia masuk terus, jika tidak? Menurut dia yang belum berkeluarga gaji sudah cukup dan bahkan lebih, tapi bagaimana dengan karyawan lain yang telah menikah dan mempunyai anak? Tentu saja itu tidak cukup dan tidak setara dengan waktu yang tidak sedikit dan tenaga yang sangat melelahkan. Dalam bekerja pun dia juga dituntut untuk menerapkan panca pesona, yaitu senyum, sapa, aman, tertib, dan bersih. Jadi tidak boleh marah, jika ada salah satu pembeli yang komplain dan marah ketika pesanan yang dia pesan datangnya lama.

Dia juga mempunyai pengalaman yang sangat menyedihkan ketika memasukkan angka pembayaran. Karena dia bekerja di sebuah tempat penjualan makanan, maka cara menginput harga tidak menggunakan barcode reader. Melainkan dengan memasukan harga dengan kode-kode yang ada. Kejadian yang apes terjadi di suatu hari. Peristiwa tersebut yaitu terjadi kesalahan dalam memasukkan kode harga dengan jumlah yang dibeli oleh pelanggan, misal kode harga 143 untuk ayam goreng dan pelanggan itu memesan 2 porsi. Tapi waktu itu terjadi kesalahan dia tertukar memasukan kode, jadi 143 yang mewakili berapa banyak pelanggan memesan, dan 002 untuk apa yang dia pesan. Yang tadi harga seharusnya sekitar 38ribu tapi yang muncul sekitar 2 jutaan. Gila banget kan?
 
Pembeli mau membayar apa yang telah ia beli saja. Tetapi yang punya konter food court tidak mau tahu apa yang terjadi, dia hanya melihat laporan yang ada dan itulah yang dia terima. Jadi terpaksa kasir itu mengganti dengan uangnya sendiri dengan memotong gajinya setiap bulannya. Belum lagi konflik-konflik yang terjadi sesama pegawai itu sendiri.  Resiko yang sangat tinggi sekali.
Setelah itu saya mencari tahu apa saja syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menjadi karyawan mall. Karena saya heran kenapa orang yang saya wawancara itu bisa bekerja di food court sebelum dia mendapatkan ijazah SMK. Ternyata yang diperlukan untuk menjadi karyawan mall atau SPG mall,  hanya diperlukan skill atau penampilan yang menarik. Jadi pendidikannya itu nomor dua.

Salah satu manager, “kalau mencari pekerja itu tidak perlu pintar atau yang berijazah tinggi”. Dia beralasan kalau orang yang pintar itu cenderung sombong, dan cenderung tidak mau diatur. Orang yang cerdas dan berpendidikan tinggi itu akan selalu merasa jika pekerjaan sebagai pegawai atau penunggu stand tidak sesuai atau relevan dengan pendidikan dan ilmu yang dia punya. Jadi dia tidak akan all out dalam bekerja. “Dia cenderung malas dalam bekerja, menuntut gaji yang tinggi. Yang ada saya yang dibodohi dan seolah-olah dia yang pemilik toko bukan saya. Malah kadang dia yang balik ngatur saya, ga lucu kan?
Realita di atas jelas sekali berbeda dengan apa yang ada di benak saya sejak kecil yang beranggapan kalau orang-orang yang ada di mall itu semuanya mewah, kaya, dan bahagia. Ya lagi-lagi itu pikiran seorang anak kecil saat itu :)

Pedagang Pasar Tradisional

Kalau di mall orang yang punya toko biasanya tidak ikut serta dalam proses penjualan. Dia hanya mengawasi saja, tapi di pasar tradisional biasanya pemiliknya yang menjualkan dagangannya sendiri. Dia merangkap jadi pegawai dan pemilik pada dagangannya itu. Dia tidak perlu menggaji orang untuk menjaga jualannya, karena dia beranggapan bahwa dia bisa menghandelnya sendiri dan agar omset yang didapat bisa maksimal. Kalaupun ada pegawai, pemilik biasa menjadikan pegawai dari keluarganya sendiri.

 Penampilan tidak terlalu diperhatikan bagi pedagang pasar tradisional. Tidak ada yang memarahi, tidak ada yang mengatur, dan tidak ada kewajiban untuk memakai make up seperti yang diwajibkan kepada pegawai mall. Tidak ada persyaratan khusus untuk berjualan. Artinya tidak perlu cantik atau ganteng, tidak perlu wah, tidak perlu baju yang bagus, tidak penting berpendidikan atau tidak, tidak harus tua, tidak harus muda, semuanya bisa berjualan di pasar asalkan ada kemauan yang tinggi. Pekerjaan yang dihadapi oleh pedagang pasar tradisional cenderung tidak menggunakan pikiran tapi kebanyakan menggunakan tenaga. 

Mereka bebas menggunakan handphone, tidak ada yang memarahi. Sistem pembayarannya juga manual jadi tidak ada input data, tidak ada 2sistem komputer,  dan teknologi lainnya. Pedagang tinggal menyebutkan harga barangnya dan pembeli tinggal membayar. Jadi tingkat kesalahan dalam pembayaran sangat sedikit.

Persaingan cukup tinggi di pasar tradisional ini. Berbagai cara dilakukan agar pelanggan membeli barang yang mereka jual. Dengan cara menteriakkan harga barang, atau membujuk orang yang lewat di depan jualannya. Tidak seperti di mall, penjualnya tidak perlu berteriak untuk menjajalkan barang yang dijual, dia cukup menempelkan harga di barangnya saja.

Pedagang yang di pasar tidak kecil lho pendapatannya. Tahukah, jika ada seorang pedagang kue di pasar tradisional yang bisa membuat rumah yang minimalis dari hasil penjualannya itu? Secara kasat mata terkadang kita mengira kalau orang yang berjualan di pasar itu rumahnya jelek. Ternyata  penjual di kios-kios pasar  kebanyakan orang-orang kaya juga. Saya melihat sendiri bagaimana bentuk rumahnya yang bagus. Saya bisa tahu karena anaknya adalah teman saya SMA dan saya sering main ke rumahnya. Hasil yang bisa di dapat sekitar 500ribu perhari dari jualan kue. 

Ibu itu berjualan di pasar tradisional, dia mulai berjualan pagi hari sekitar jam 8 sampai jam 6 sore. Waktu yang tidak begitu lama seperti pegawai di mall. Dia juga bisa memanage apakah dia mau berjualan atau tidak, tanpa ada paksaan dari mana pun. Dia berjualan berbagai jenis kue kecil yang ada. Dia tidak mempunyai basic untuk membuat kue dan tidak pernah sekolah di bidang tata boga tapi nyatanya dia bisa berjualan kue. Dia hanya mengumpulkan kue dari penjual-penjual rumah tangga yang menitip dengannya. Dia juga memiliki relasi dengan orang luar kota dengan menjual donat dan rasa kuenya enak-enak tidak kalah enaknya dengan kue yang dijual di mall.

Alasan dia memilih berjualan di pasar tradisional, karena pembeli berasal berbagai kalangan mana saja. Dengan harga kue yang relatif murah, dia bisa menghabiskan kuenya dalam satu  hari. Manusianya yang heterogen, jadi tingkat lakunya barang yang dia jual itu tinggi, tidak banyak peraturan yang berlaku. Dia tidak harus membayar pajak seperti di mall, paling hanya membayar iuran perhari sekitar 5 ribu rupiah. Dan tentu keuntungan yang dia dapatkan utuh. Sukanya itu, kalau dagangannya itu habis terjual, dan hasil jualannya itu untuk dirinya sendiri. Dukanya ketika pelanggan menawar harga yang sangat murah, atau mencicipi kue-kuenya namun tidak membeli. Trus pembeli sudah lama bertanya tentang harga, variasi kue apa saja, namun tidak jadi membeli kuenya itu. Berbeda dengan di mall, harga telah ditentukan kan, dan orang tidak dapat menawarnya lagi.

Kesimpulan

Mall dan pasar tradisional memiliki persamaan yaitu sebagai tempat transaksi jual beli, yaitu sama-sama merupakan tempat bertemunya pedagang dan penjual dengan mencapai kesepakatan bersama dalam menjual dan membeli barang.
Banyak orang yang beranggapan kalau orang yang sudah bekerja di mall itu adalah orang yang serba kecukupan, karena dia melihat dari aspek cara berpakaian dan penampilannya saja. Dan merasa orang itu bahagia atau tidak dilihat dari tempatnya nyaman atau tidak. Sedangkan pedagang di pasar tradisional dianggap pekerjaan yang sangat kotor dan tidak mungkin membuat orang menjadi kaya.

Ternyata tanpa kita sadari pemikiran kita selama ini salah. Orang bisa sukses di mana saja, baik di mall atau di pasar tradisional. Perbedaan tempat, cara, penampilan pegawai itu hanya pemanis pekerjaan saja. Sebenarnya pekerjaan itu  bagus tidaknya tidak dapat dilihat dari luarnya saja. Tapi hal tersebut tergantung bagaimana masing-masing pribadi  menyikapinya. Namun menurut saya pribadi pasar tradisional maupun mall sama saja. Namun yang paling penting dari itu adalah bagaimana kita mengenali, memaknai, dan mengendalikan pola yang ada. Intinya Don’t judge a book by its cover. Betul tidak?


 


Tidak ada komentar: